IMG-20260722-WA0070

Jelang CISEC 2026, SEAAM Konsolidasikan Dukungan Mitra di Makassar

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Makassar – Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) mematangkan persiapan pelaksanaan Celebes International Summit on Education and Culture (CISEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Persiapan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan mitra dari Malaysia.

Sebagai bagian dari persiapan teknis, Komite Saintifik SEAAM, Ismail Suardi Wekke, menggelar pertemuan daring bersama jajaran otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Jumat (17/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas penyelarasan skema keterlibatan serta dukungan fasilitas di kawasan bandara untuk menunjang mobilitas dan penyambutan delegasi yang akan menghadiri rangkaian kegiatan CISEC 2026.

“Pertemuan daring bersama otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi tonggak penting dalam memastikan seluruh kesiapan logistik dan pintu masuk para delegasi internasional terfasilitasi dengan standar terbaik,” kata Ismail seusai peninjauan agenda kerja di Makassar.

Selain melakukan koordinasi dengan pihak bandara, SEAAM juga memperluas jejaring kemitraan di tingkat regional. Ismail Suardi Wekke melakukan pertemuan tatap muka dengan pengurus Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia untuk menjajaki dukungan dan keterlibatan organisasi berbasis komunitas tersebut dalam pelaksanaan CISEC 2026.

“Dukungan dari Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia menunjukkan bahwa CISEC tidak hanya berfokus pada wacana akademik, tetapi juga menyentuh aspek kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas,” ujarnya.

Menurut Ismail, keterlibatan mitra dari Malaysia diharapkan dapat memperkuat dimensi kebudayaan dalam pelaksanaan CISEC 2026, termasuk melalui pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat di tingkat regional.

CISEC 2026 dirancang sebagai forum yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas isu pendidikan dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Forum tersebut juga diharapkan dapat mendorong kolaborasi lintas sektor dan negara.

“Kami merancang CISEC sebagai ruang dialog inklusif yang dapat menghubungkan pemikir, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Asia Tenggara,” tegas Ismail.

Ia mengatakan, hasil koordinasi dengan pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin telah menghasilkan pembahasan awal terkait dukungan fasilitas dan pemanfaatan area strategis untuk menunjang mobilitas peserta kegiatan.

Sementara itu, kerja sama yang tengah dijajaki dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia diharapkan dapat memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam bidang kebudayaan serta pemberdayaan masyarakat.

Saat ini, tim kerja SEAAM masih mematangkan struktur agenda kegiatan dan melakukan penyaringan karya ilmiah yang akan menjadi bagian dari rangkaian CISEC 2026.

Melalui persiapan dan penjajakan kemitraan tersebut, SEAAM menargetkan CISEC 2026 dapat menjadi forum pertukaran gagasan dan pengalaman antarnegara di Asia Tenggara, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

IMG-20260706-WA0067

Pertemuan di Kemlu RI: SEAAM Matangkan Persiapan ASEAN Symposium 2026

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – South East Asia Academic Mobility (SEAAM) bersama Binus University mematangkan persiapan penyelenggaraan ASEAN Symposium on Higher Education yang dijadwalkan berlangsung pada 22–28 September 2026 mendatang di Jakarta-Bandung. Sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat muatan kebijakan dalam forum tersebut, SEAAM mulai membangun komunikasi intensif dengan pemangku kebijakan luar negeri.

Komite Saintifik SEAAM, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta pada Senin (6/7/2026). Kedatangan perwakilan SEAAM ini membawa agenda utama untuk mengundang Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri agar berkenan hadir dan memberikan pandangan strategisnya sebagai pembicara kunci dalam simposium bergengsi tersebut.

Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa kehadiran pengambil kebijakan luar negeri sangat krusial untuk memberikan arah baru bagi masa depan integrasi pendidikan di kawasan ASEAN. Kegiatan ini juga dilaksanakan sebagai implementasi kerjasama perguruan tinggi Indonesia dengan Universiti Kebangsaan Malaysia.

“Kami berharap Kepala BSKLN Kemlu RI dapat memaparkan arah kebijakan strategis regional, sehingga perguruan tinggi di Asia Tenggara mampu merespons tantangan global secara selaras,” ujar Ismail saat ditemui di gedung Kemlu RI, Jakarta, Senin (6/7/2026).

Usai pertemuan tersebut, Ismail juga menjelaskan bahwa simposium ini dirancang untuk tidak sekadar menjadi ajang diskusi akademik konvensional. Forum satu minggu di Bandung nanti akan diarahkan menjadi motor penggerak inovasi tata kelola dan mutu pendidikan tinggi di tingkat regional.

“ASEAN Symposium on Higher Education tahun ini dirancang sebagai platform dinamis yang mempertemukan pemikiran akademis dan praktisi kebijakan demi melahirkan peta jalan pendidikan tinggi yang adaptif,” lanjutnya.

Selain menggandeng Binus University sebagai mitra pelaksana utama di Indonesia, agenda internasional ini dipastikan akan memiliki daya jangkau yang lebih luas dengan keterlibatan aktif dari institusi mancanegara. SEAAM mengonfirmasi telah menjalin kemitraan erat dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) untuk memperkuat basis riset dan jaringan kolaborasi antarnegara selama simposium berlangsung.

Ismail menambahkan bahwa sinergi bilateral antara institusi Indonesia dan Malaysia dalam acara ini mencerminkan komitmen kuat untuk membangun ekosistem akademik yang inklusif di Asia Tenggara.

“Kolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia mempertegas visi kami bahwa transformasi mutu pendidikan tinggi hanya bisa dicapai melalui kerja sama lintas batas yang konkret,” pungkas Ismail.

Melalui persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor pemerintahan dan universitas papan atas regional, ASEAN Symposium on Higher Education di Bandung diharapkan dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi taktis bagi perkembangan dunia akademik di kawasan Asia Tenggara.