IMG-20260725-WA0008

Sinergi Kampus dan Pemberdayaan Masyarakat: IAI Rawa Aopa dan Koperasi Homestay Teluk Ketapang

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Andolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus memperkuat jejaring dan reputasi internasionalnya. Langkah nyata ini diwujudkan melalui penjajakan dan penandatanganan kerja sama strategis dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia, yang berfokus pada pengembangan ekonomi berbasis komunitas, riset ekowisata, dan program pengabdian masyarakat lintas negara, ini sebagai diskusi akhir dalam kunjungan ke Konawe Selatan, Selasa (21/7/2026).

Pertemuan strategis ini mempertemukan kedua belah pihak guna bertukar pandangan mengenai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di masa depan. Beberapa agenda strategis yang menjadi fokus pembahasan meliputi program magang internasional (internship), penelitian bersama (joint research) terkait tata kelola pariwisata berbasis masyarakat, hingga program pengabdian masyarakat internasional (international community service).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi ini dalam mendukung penguatan kapasitas institusi dan implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi.

“Kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang ini merupakan bentuk komitmen IAI Rawa Aopa untuk menghadirkan pengalaman belajar berskala global bagi para mahasiswa dan dosen. Kami tidak hanya fokus pada penguatan akademik di dalam kampus, tetapi juga membuka ruang kolaborasi praktis yang memberi dampak nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen kolaborasi tersebut, pihak Koperasi Homestay Teluk Ketapang melangsungkan kunjungan balasan selama 3 hari 2 malam di Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan. Dalam kunjungan lapangan ini, rombongan bertandang langsung ke Kampus 2 dan Kampus 3 IAI Rawa Aopa Konawe Selatan untuk meninjau fasilitas pendidikan serta berdiskusi langsung dengan dosen dan mahasiswa terkait pengembangan potensi lokal berbasis kemitraan lintas negara.

Selain menyambangi fasilitas kampus, delegasi Malaysia tersebut memperluas jejaring kerja sama ke tingkat tapak dengan menemui Kepala Desa Pellandia, Kecamatan Buke. Pertemuan ini difokuskan pada pertukaran gagasan serta perencanaan program pendampingan desa wisata berbasis komunitas, meniru model keberhasilan tata kelola homestay yang telah diterapkan Koperasi Homestay Teluk Ketapang di Malaysia.

Rangkaian kunjungan ditutup dengan pertemuan resmi bersama Sekretaris Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, guna memperkuat dukungan pemerintah daerah terhadap program sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat desa, dan mitra internasional. Kerja sama multipihak ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam mendorong percepatan pembangunan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Konawe Selatan.

IMG-20260725-WA0006

IAI Rawa Aopa Siapkan Program KKA Agustus 2026, Mahasiswa Diminta Segera Registrasi

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Andolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersiap menggelar program Kuliah Kerja Amaliah (KKA) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Agustus 2026. Seluruh mahasiswa yang memenuhi persyaratan sebagai peserta diminta segera menyelesaikan proses registrasi administrasi dan akademik sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Persiapan pelaksanaan KKA dilakukan dengan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi yang menjadi sasaran program. Peninjauan tersebut dilakukan jajaran pimpinan civitas akademika IAI Rawa Aopa, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan itu melibatkan Rektor IAI Rawa Aopa Dr. Basrin Melamba, M.A., Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Al Asri, M.Si., Wakil Rektor Ismail Suardi Wekke, Ph.D., serta sejumlah dosen dan tenaga kependidikan.

Tim tersebut meninjau sejumlah titik di wilayah Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan untuk memastikan kesiapan lokasi sekaligus memetakan kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran program pengabdian.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan pentingnya mahasiswa segera melakukan registrasi sebagai peserta KKA. Menurut dia, kepastian jumlah peserta diperlukan untuk menentukan pemetaan kelompok dan penempatan mahasiswa di lokasi pengabdian.

“Kami meminta seluruh mahasiswa peserta KKA untuk segera melakukan registrasi sesuai jadwal yang ditetapkan agar pemetaan kelompok dan penempatan lokasi berjalan optimal,” ujar Ismail di sela-sela peninjauan lapangan.

Ismail mengatakan pelaksanaan KKA pada Agustus 2026 menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghubungkan proses pembelajaran akademik dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi melalui program yang relevan dengan kondisi dan potensi wilayah tempat mereka menjalankan pengabdian.

“KKA bukan sekadar pemenuhan SKS formal, melainkan ruang pembuktian kepedulian sosial dan integrasi keilmuan civitas akademika IAI Rawa Aopa di tengah masyarakat,” tegasnya.

Menurut Ismail, peninjauan lapangan yang dilakukan bersama jajaran yayasan, rektorat, dosen, dan tenaga kependidikan juga bertujuan mengidentifikasi potensi serta tantangan di wilayah yang akan menjadi lokasi KKA.

Pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan manfaat yang konkret.

Ismail menambahkan, program KKA tahun ini akan diarahkan pada integrasi sejumlah sektor, di antaranya keagamaan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan tata kelola desa. Pendekatan berbasis kebutuhan lokal dinilai penting agar program yang dijalankan mahasiswa dapat mendukung pembangunan di wilayah sasaran.

Ia pun meminta mahasiswa mempersiapkan diri sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, baik dari sisi fisik, mental, maupun kesiapan program kerja.

“Persiapkan diri dengan baik, jaga integritas almamater, dan jadikan momentum KKA ini sebagai sarana belajar serta mengabdi secara tulus,” tutup Ismail.

IMG-20260722-WA0070

Jelang CISEC 2026, SEAAM Konsolidasikan Dukungan Mitra di Makassar

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Makassar – Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) mematangkan persiapan pelaksanaan Celebes International Summit on Education and Culture (CISEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Persiapan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan mitra dari Malaysia.

Sebagai bagian dari persiapan teknis, Komite Saintifik SEAAM, Ismail Suardi Wekke, menggelar pertemuan daring bersama jajaran otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Jumat (17/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas penyelarasan skema keterlibatan serta dukungan fasilitas di kawasan bandara untuk menunjang mobilitas dan penyambutan delegasi yang akan menghadiri rangkaian kegiatan CISEC 2026.

“Pertemuan daring bersama otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi tonggak penting dalam memastikan seluruh kesiapan logistik dan pintu masuk para delegasi internasional terfasilitasi dengan standar terbaik,” kata Ismail seusai peninjauan agenda kerja di Makassar.

Selain melakukan koordinasi dengan pihak bandara, SEAAM juga memperluas jejaring kemitraan di tingkat regional. Ismail Suardi Wekke melakukan pertemuan tatap muka dengan pengurus Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia untuk menjajaki dukungan dan keterlibatan organisasi berbasis komunitas tersebut dalam pelaksanaan CISEC 2026.

“Dukungan dari Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia menunjukkan bahwa CISEC tidak hanya berfokus pada wacana akademik, tetapi juga menyentuh aspek kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas,” ujarnya.

Menurut Ismail, keterlibatan mitra dari Malaysia diharapkan dapat memperkuat dimensi kebudayaan dalam pelaksanaan CISEC 2026, termasuk melalui pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat di tingkat regional.

CISEC 2026 dirancang sebagai forum yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas isu pendidikan dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Forum tersebut juga diharapkan dapat mendorong kolaborasi lintas sektor dan negara.

“Kami merancang CISEC sebagai ruang dialog inklusif yang dapat menghubungkan pemikir, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Asia Tenggara,” tegas Ismail.

Ia mengatakan, hasil koordinasi dengan pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin telah menghasilkan pembahasan awal terkait dukungan fasilitas dan pemanfaatan area strategis untuk menunjang mobilitas peserta kegiatan.

Sementara itu, kerja sama yang tengah dijajaki dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia diharapkan dapat memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam bidang kebudayaan serta pemberdayaan masyarakat.

Saat ini, tim kerja SEAAM masih mematangkan struktur agenda kegiatan dan melakukan penyaringan karya ilmiah yang akan menjadi bagian dari rangkaian CISEC 2026.

Melalui persiapan dan penjajakan kemitraan tersebut, SEAAM menargetkan CISEC 2026 dapat menjadi forum pertukaran gagasan dan pengalaman antarnegara di Asia Tenggara, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

IMG-20260720-WA0102

IAI Rawa Aopa Gandeng Koperasi Malaysia, Desa Pelandia Jadi Laboratorium Pengabdian

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Pelandia – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menjalin kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, untuk memperkuat program transformasi desa berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa Pelandia, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Senin (20/7/2026).

Kolaborasi tersebut ditandai dengan pertemuan antara Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, dan Pengerusi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Md Azmi A. Azis. Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Desa Pelandia dan Sekretaris Kecamatan Buke.

Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan pemerintah desa serta mitra internasional.

Dalam kesempatan itu, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa transformasi desa harus diwujudkan melalui langkah nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Transformasi desa tidak boleh sekadar menjadi komoditas wacana di ruang-ruang seminar kampus. Perguruan tinggi keagamaan Islam harus hadir sebagai intermedian sekaligus penggerak perubahan yang melekat langsung di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, Desa Pelandia dipilih sebagai titik awal pengembangan model kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan mitra internasional.

“Dari Desa Pelandia, kami berkomitmen meletakkan batu pertama bagi sebuah ekosistem baru. Kehadiran Md Azmi A. Azis dari Koperasi Teluk Ketapang Malaysia diikhtiarkan membawa perspektif global dan pengalaman praktis sektor hospitality yang akan disenyawakan dengan kearifan lokal Kecamatan Buke. Hal ini menjadi model hilirisasi pengetahuan yang langsung menyentuh akar rumput demi menjawab kebutuhan masyarakat desa,” kata Ismail.

Dalam kerja sama tersebut, Koperasi Homestay Teluk Ketapang akan berbagi pengalaman dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism), termasuk pengelolaan homestay, ekonomi kreatif, dan penguatan kelembagaan desa.

Md Azmi A. Azis menekankan bahwa pembangunan desa akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat menjadi pelaku utama dalam proses pengembangannya.

“Warga desa harus menjadi pemilik saham utama dalam pembangunan daerahnya sendiri,” ujarnya.

Program yang dirancang dalam kemitraan ini meliputi pelatihan manajemen akomodasi lokal, digitalisasi pemasaran potensi desa, serta pendampingan bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi lokal. Seluruh program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Pemerintah Kecamatan Buke dan Pemerintah Desa Pelandia menyambut baik kerja sama tersebut. Sekretaris Kecamatan Buke bersama Kepala Desa Pelandia menyatakan kesiapan menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pengembangan program pengabdian masyarakat, riset terapan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara IAI Rawa Aopa, Pemerintah Desa Pelandia, dan Koperasi Homestay Teluk Ketapang diharapkan menjadi model kemitraan lintas negara yang mampu memperkuat pembangunan desa melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, dan penguatan kelembagaan desa.

IMG-20260719-WA0020

IAI Rawa Aopa dan Koperasi Malaysia Siapkan MoU untuk Perkuat Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memperluas jaringan kerja sama internasional melalui kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Kuala Terengganu, Malaysia. Kedua lembaga tengah mematangkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar pelaksanaan berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas.

Persiapan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, dan Ketua Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Mohd Aziz, di Andoolo, Konawe Selatan, Minggu (19/7/2026).

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, mengatakan kemitraan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring internasional kampus sekaligus memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berorientasi pada pertukaran pengalaman akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kerja sama ini akan memperkuat program pengabdian masyarakat, membuka ruang kolaborasi penelitian, serta menghadirkan pengalaman internasional bagi dosen dan mahasiswa. Kami ingin kerja sama ini melahirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Ismail.

Ia menambahkan, kedekatan budaya antara Indonesia dan Malaysia menjadi modal penting dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan. Kesamaan karakter masyarakat yang dinilai dapat mempermudah implementasi berbagai program lintas negara, terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan komunitas dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Selain pengabdian kepada masyarakat, kedua institusi juga menjajaki peluang pelaksanaan penelitian bersama, pertukaran akademisi, serta keterlibatan mahasiswa dalam program pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) di Malaysia.

Sementara itu, Ketua Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Mohd Aziz, menyatakan menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Menurutnya, pengalaman Koperasi Homestay Teluk Ketapang dalam mengembangkan ekowisata berbasis komunitas dapat menjadi ruang pembelajaran bersama bagi sivitas akademika IAI Rawa Aopa.

“Kami berharap kerja sama ini menjadi awal hubungan jangka panjang antara kedua institusi. Mahasiswa dan akademisi dari IAI Rawa Aopa nantinya dapat belajar sekaligus berkontribusi dalam pengembangan homestay, pariwisata komunitas, dan pemberdayaan masyarakat di Malaysia,” kata Azmi.

Penandatanganan MoU yang tengah dipersiapkan itu diharapkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya berbagai program kolaboratif Indonesia–Malaysia, mulai dari pengabdian masyarakat internasional, penelitian bersama, pengembangan desa wisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran akademik.

Melalui kemitraan tersebut, IAI Rawa Aopa bertujuan memperkuat jejaring global sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat di tingkat regional maupun internasional.

IMG-20260719-WA0012

Koperasi Homestay Malaysia Sambangi Konawe Selatan, Buka Peluang Kerja Sama Internasional dengan IAI Rawa Aopa

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id – Kendari – Upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berbasis komunitas terus dilakukan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Salah satunya melalui kunjungan Delegasi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Kuala Terengganu, Malaysia, yang tiba di Bandara Haluoleo, Kendari, Minggu (19/7/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kerja sama antara kedua lembaga dalam pengembangan program pengabdian masyarakat, pemberdayaan ekonomi warga, serta penguatan konsep pariwisata syariah dan ekowisata.

Pimpinan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Bin Abd Azis atau Cikgu Azmi, mengatakan kunjungan ke Sulawesi Tenggara merupakan langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih luas antara komunitas di Malaysia dan Indonesia.

“Kami melihat banyak potensi yang dapat dikembangkan bersama, terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. Oleh karena itu, kami sangat antusias untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan pihak IAI Rawa Aopa,” ujarnya setibanya di Kendari.

Setelah tiba di Sulawesi Tenggara, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Konawe Selatan untuk mengikuti serangkaian agenda akademik dan kunjungan lapangan. Selain berdialog dengan pimpinan kampus, delegasi juga akan diperkenalkan dengan sejumlah program pengabdian masyarakat yang selama ini menjadi fokus IAI Rawa Aopa.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai kunjungan tersebut sebagai peluang strategis untuk memperluas jejaring internasional kampus sekaligus memperkaya perspektif mahasiswa dan dosen dalam pengembangan masyarakat.

“Kerja sama seperti ini tidak hanya penting bagi institusi, tetapi juga bagi masyarakat yang menjadi sasaran program pemberdayaan. Kami berharap ada transfer pengalaman dan praktik baik yang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan lokal,” katanya.

Menurut Ismail, salah satu agenda yang akan dibahas adalah kemungkinan pengembangan program bersama dalam bidang pariwisata berbasis komunitas yang mengedepankan aspek kemiskinan, kearifan lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kunjungan delegasi Malaysia ini juga mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar. Mereka menilai kehadiran praktisi internasional dapat membuka ruang pembelajaran baru sekaligus memperluas peluang kolaborasi lintas negara.

Melalui pertemuan tersebut, kedua pihak diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah konkret yang tidak hanya menghentikan pertukaran gagasan, tetapi juga melahirkan program kolaboratif yang berdampak langsung bagi masyarakat serta memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Malaysia.

IMG-20260717-WA0047

Menag Ajak Kampus Hidupkan Kembali Tradisi Intelektual Islam, UIN Jakarta Luncurkan Tiga Buku Pemikiran Nasaruddin Umar

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, mengajak seluruh perguruan tinggi untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam melalui budaya membaca, menulis, meneliti, dan menerbitkan karya ilmiah. Seruan itu disampaikan saat peluncuran dan bedah tiga buku seri pemikirannya di Auditorium Harun Nasution Kampus I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Peluncuran buku tersebut menjadi momentum penguatan budaya literasi dan tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi sekaligus penegasan peran UIN Jakarta sebagai pusat pengembangan pemikiran Islam di Indonesia.

Tiga buku yang diluncurkan yakni “Pikiran yang Memurnikan: Jejak Mahakarya Prof. Nasaruddin Umar , Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, serta Artikel dan Opini Pilihan Prof. Nasaruddin Umar”. Ketiganya merekam perjalanan intelektual Nasaruddin Umar dalam isu keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, hingga peradaban.

“Semoga peluncuran buku ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat tradisi intelektual Islam Indonesia dan melahirkan generasi akademisi yang produktif, terbuka, serta mampu berkontribusi di tingkat nasional maupun global,” ujar Nasaruddin Umar.

Dalam pidatonya, Menag juga mengenang kuatnya tradisi intelektual yang pernah tumbuh di kawasan Ciputat pada masa kepemimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab sebagai Rektor UIN Jakarta. Menurutnya, saat itu diskusi ilmiah rutin menjadi ruang pertemuan para profesor, dosen, mahasiswa, dan komunitas intelektual dari berbagai perguruan tinggi.

“Saya masih mengingat suasana intelektual di Ciputat pada masa lalu. Di kawasan ini tumbuh berbagai komunitas akademik yang aktif berdiskusi dan berdebat secara sehat. Persaingan yang terjadi bukanlah persaingan politik semata, melainkan persaingan intelektual yang melahirkan gagasan-gagasan besar. Saya berharap semangat akademik seperti itu dapat kita hidupkan kembali,” katanya.

Menag menilai Indonesia mempunyai peluang besar untuk mengambil peran penting dalam membangun peradaban Islam dunia. Menurutnya, setelah Timur Tengah menjalankan peran sejarah sebagai tempat lahirnya Islam, Indonesia berpotensi menjadi pusat pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan.

“Bagi saya, sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar dalam membangun peradaban Islam dunia. Timur Tengah telah menunaikan peran historisnya sebagai tempat lahirnya Islam. Kini, estafet pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan memiliki peluang besar untuk tumbuh dari Indonesia,” tegasnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D., mengatakan peluncuran ketiga buku tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya membangun kembali tradisi intelektual di kampus.

Menurutnya, karya-karya Nasaruddin Umar menghadirkan kontribusi penting bagi perkembangan kajian Islam kontemporer, mulai dari hermeneutika gender, eko-sufisme, hermeneutika sosial, psikosufisme, hingga ekoteologi.

“Tiga buku karya Prof.Dr.KH.Nasaruddin Umar tidak hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual beliau selama puluhan tahun, tetapi juga menghadirkan perspektif baru yang memperkaya khazanah keilmuan Islam kontemporer,” ujar Asep.

Ia berharap buku-buku tersebut dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dan akademisi dalam melahirkan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, serta berbagai publikasi ilmiah lainnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Si., mengapresiasi produktivitas intelektual Nasaruddin Umar. Menurutnya, buku ketiga tersebut menunjukkan keluasan perspektif keilmuan yang mampu memadukan kajian keislaman dengan pendekatan multidisipliner.

“Seorang intelektual tidak boleh berhenti pada teks semata, tetapi harus mampu membaca dinamika sosial dan persoalan zaman. Dari situlah lahir karya-karya Prof. Nasaruddin Umar yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan realitas kehidupan masyarakat modern,” ujar Yusril.

Acara peluncuran dihadiri jajaran pimpinan Kementerian Agama, para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pimpinan perguruan tinggi Islam swasta, guru besar, ilmuwan, ulama, birokrat, cendekiawan, dan mahasiswa dari berbagai daerah.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peluncuran simbolis tiga buku, penandatanganan poster buku, penyerahan buku kepada sepuluh tokoh nasional, serta sesi bedah buku yang menghadirkan sejumlah ilmuwan dan pakar, di antaranya Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag., Dr. Budhy Munawar Rachman, MA, dan penulis buku Rahmat Taufik Sihaputar, SQ, M.Ag., dengan moderator Prof. Ali Munhanif, MA, Ph.D.

IMG-20260716-WA0007

Ismail Suardi Wekke: Buku Seri Pemikiran Nasaruddin Umar Jadi Rujukan Transformasi Pendidikan Islam

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Tiga buku Seri Pemikiran Prof. KH Nasaruddin Umar, MA resmi diluncurkan di Auditorium Harun Nasution, Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026). Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sekaligus memperluas penyebaran gagasan intelektual Menteri Agama Republik Indonesia kepada kalangan akademisi dan masyarakat.

Kegiatan yang digelar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, Kantor Nasaruddin Umar (NUO), UIN Sumatera Utara Medan, Universitas PTIQ Jakarta, dan Prodeleader Global Media itu melibatkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, serta pimpinan perguruan tinggi keagamaan dari berbagai daerah.

Tiga buku yang diluncurkan masing-masing berjudul “Pikiran yang Memurnikan: Jejak Mahakarya Prof. Nasaruddin Umar” karya Rahmat Taufik Sipahutar, Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, dan Artikel & Opini Pilihan Prof. Nasaruddin Umar. Ketiganya mengulas perkembangan pemikiran Nasaruddin Umar, mulai dari isu epistemologi, tafsir, moderasi beragama, hingga tantangan pendidikan Islam di era digital.

Acara peluncuran menghadirkan Menteri Agama RI Prof. KH Nasaruddin Umar, MA dan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Si. sebagai pembicara utama. Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar membuka kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan sesi buku bedah bersama sejumlah sejarawan.

Di sela-sela kegiatan, Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai kehadiran buku seri pemikiran tersebut menjadi referensi penting bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi perguruan tinggi keagamaan.

“Menurut saya, buku ini bukan hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual Prof. Nasaruddin Umar, tetapi juga menawarkan arah baru bagi pengembangan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman,” kata Ismail.

Ia mengatakan berbagai gagasan tertua dalam buku tersebut dapat menjadi rujukan dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi, pengembangan kurikulum, hingga transformasi digital di lingkungan kampus.

“Buku ini bukan sekedar narasi teks biasa, melainkan kompas pemikiran yang dapat menjadi acuan dalam membangun institusi pendidikan Islam yang lebih modern, adaptif, dan tetap diterapkan pada nilai-nilai keislaman,” ujarnya.

Menurut Ismail, perguruan tinggi keagamaan mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam praktik pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, IAI Rawa Aopa, kata dia, akan menjadikan berbagai pemikiran tertua dalam buku tersebut sebagai salah satu referensi dalam pengembangan kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami ingin nilai-nilai yang dibangun Prof. Nasaruddin Umar tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam proses pembelajaran sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki karakter moderat,” tuturnya.

Peluncuran buku ini juga dirangkaikan dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional sebagai bagian dari upaya memperluas penyebaran gagasan Prof. Nasaruddin Umar kepada kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas.

IMG-20260715-WA0010

Koperasi Malaysia Dijadwalkan Kunjungi IAI Rawa Aopa, Bahas Penguatan Ekonomi Berbasis Syariah

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, tengah mempersiapkan kerja sama dengan delegasi Koperasi Malaysia melalui agenda kunjungan yang dirancang sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan berbasis syariah. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengalaman pengelolaan koperasi sekaligus pengembangan kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal.

Rencana itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, di Kampus Binus University, Alam Sutera, Tangerang, Selasa (14/7/2026), usai menjadi narasumber dalam kegiatan Pre-Conference International Conference on Sustainability Business, Economy, and Accounting (ICOSBE) 2026.

Menurut Ismail, kunjungan delegasi Koperasi Malaysia tidak hanya dimaksudkan sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi langkah awal membangun kerja sama yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

“Kunjungan mitra dari Koperasi Malaysia ke kampus kami di Konawe Selatan bukan sekadar seremoni biasa, melainkan momentum penting untuk menyinergikan potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis syariah,” kata Ismail.

Ia menjelaskan, IAI Rawa Aopa dipilih karena memiliki fokus pengembangan masyarakat pesisir dan pedesaan. Kampus tersebut, kata dia, sedang menyiapkan laboratorium koperasi mahasiswa yang akan menjadi wadah pembelajaran sekaligus pengembangan model pengelolaan koperasi modern dengan mengadopsi sejumlah praktik yang telah diterapkan di Malaysia.

Bagi IAI Rawa Aopa, kerja sama lintas negara tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik di kalangan mahasiswa maupun pelaku usaha lokal.

“Kami ingin mahasiswa dan pelaku usaha lokal di Sulawesi Tenggara bisa belajar langsung bagaimana Koperasi Malaysia mampu menembus pasar global dan mengelola aset hingga miliaran ringgit,” ujarnya.

Ismail mengatakan, hasil dari kerja sama itu nantinya tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan. Kampus telah menyiapkan program Pengabdian kepada Masyarakat Tematik Internasional yang akan melibatkan mahasiswa dalam pendampingan koperasi desa bersama akademisi dan praktisi dari Malaysia.

Program tersebut, menurut dia, diharapkan menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra internasional dalam memperkuat tata kelola koperasi di daerah.

“Kami menargetkan setelah kunjungan ini terlaksana akan lahir sebuah proyek percontohan koperasi modern berbasis digital di Konawe Selatan yang dibina bersama oleh IAI Rawa Aopa dan Koperasi Malaysia,” kata Ismail.

Melalui kolaborasi tersebut, IAI Rawa Aopa berharap pengalaman pengelolaan koperasi di Malaysia dapat diadaptasi sesuai kebutuhan lokal, sehingga mampu memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan dan kawasan pesisir Sulawesi Tenggara.

 

IMG-20260714-WA0002

Binus Business School Gelar Workshop Bersama IAI Rawa Aopa, Implementasikan Kerja Sama Akademik

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang – Binus Business School menggelar workshop pra-konferensi sebagai bagian dari rangkaian menuju International Conference on Organizational Sustainability, Business, and Economics (ICOSBE) 2026 di Kampus Binus University Alam Sutera, Tangerang, yang akan di gelar pada Selasa 14 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi implementasi awal dari Letter of Intent (LoI) yang telah bergabung Binus University dan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan.

Workshop menghadirkan sejarawan Ismail Suardi Wekke sebagai narasumber. Selain menjabat Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail juga merupakan Editor IGI Global Publisher serta Distinguished Professor di North Bangkok University, Thailand.

Dalam paparannya, Ismail mengatakan lokakarya tersebut merupakan tindak lanjut dari komitmen kerja sama yang telah disepakati kedua institusi.

“Workshop hari ini merupakan implementasi nyata dari Letter of Intent (LoI) yang sudah ditandatangani antara Binus University dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan beberapa waktu lalu,” kata Ismail, Senin (13/7/2026).

Menurut dia, kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi perlu dijaga agar tidak berhenti menandatangani dokumen, tetapi terus melanjutkan bentuk kegiatan akademik yang menghasilkan kolaborasi penelitian dan publikasi ilmiah.

Ismail juga menilai forum akademik internasional perlunya semakin inklusif sehingga memberikan kesempatan yang sama bagi peneliti dari berbagai daerah untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Kita memerlukan ruang-ruang akademik yang inklusif, di mana kolaborasi riset tidak lagi memandang geografi institusi, melainkan fokus pada kualitas kontribusi ilmiah yang dihasilkan,” ujarnya.

Lokakarya pra-konferensi ini dirancang untuk membekali dosen, peneliti, dan akademisi dengan penguatan metodologi penelitian serta publikasi strategi pada jurnal internasional bereputasi. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menuju penyelenggaraan ICOSBE 2026.

Ismail berharap forum ini dapat menjadi titik awal lahirnya penelitian kolaboratif yang melibatkan berbagai perguruan tinggi, sekaligus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia di tingkat internasional.

“Saya berharap sinergi ini terus bergulir. Setelah workshop ini, target kita adalah melahirkan publikasi-publikasi berkualitas yang mampu menjawab tantangan bisnis dan sosial di tingkat global,” ujarnya.

Melalui lokakarya tersebut, Binus Business School dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan menegaskan komitmen untuk memperkuat jejaring akademik, mendorong kolaborasi penelitian lintas institusi, serta meningkatkan kontribusi pendidikan tinggi Indonesia dalam forum ilmiah internasional.