IMG-20260622-WA0050

IAI Rawa Aopa dan Istiqlal Fatwa Centre Bahas Peluang Kolaborasi Akademik

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Ciputat – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menjajaki peluang kerja sama dengan Istiqlal Fatwa Centre (IFTA) guna memperkuat pengembangan keilmuan, khususnya pada Program Studi Hukum Tata Negara di Fakultas Syariah.

Gagasan kolaborasi tersebut mencuat dalam pertemuan yang berlangsung di sela kegiatan Majelis Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) Jabodetabek di Ciputat, Sabtu (19/6/2026).

Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, bertemu dengan Direktur Istiqlal Fatwa Centre, Dr. H. Mahkama Mahdin, Lc., M.A.

Mahkama Mahdin yang merupakan alumnus Universitas Al-Azhar Kairo hadir sebagai narasumber dalam pengajian bulanan IAPIM Jabodetabek. Seusai kegiatan, keduanya berdiskusi mengenai peluang pengembangan jejaring Istiqlal Fatwa Centre di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara.

Menurut Ismail, upaya Masjid Istiqlal Jakarta memperluas jangkauan IFTA ke berbagai wilayah Indonesia perlu mendapat dukungan dari perguruan tinggi, terutama yang memiliki basis keilmuan syariah dan hukum.

“Kami melihat visi Imam Besar Masjid Istiqlal untuk mengembangkan Istiqlal Fatwa Centre ke berbagai wilayah Indonesia sebagai peluang strategis yang patut disambut oleh perguruan tinggi daerah,” kata Ismail.

Ia menilai, IAI Rawa Aopa memiliki modal akademik yang memadai untuk mendukung pengembangan program tersebut. Fakultas Syariah, khususnya Program Studi Hukum Tata Negara, dinilai memiliki karakter kajian yang relevan dengan isu-isu hukum Islam dan tata kelola pemerintahan kontemporer.

“Fakultas Syariah kami, terutama Program Studi Hukum Tata Negara, memiliki kekhasan yang kontekstual untuk menjadi mitra strategis dalam mengembangkan dan mendiseminasikan kajian-kajian yang dihasilkan Istiqlal Fatwa Centre,” ujarnya.

Selain memperluas akses masyarakat terhadap kajian hukum Islam yang otoritatif, Ismail berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang pertukaran gagasan dan penguatan kapasitas akademik antara perguruan tinggi dan lembaga fatwa nasional.

Menurut dia, sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan Istiqlal Fatwa Centre akan memperkaya perspektif keilmuan sekaligus menghadirkan rujukan hukum Islam yang moderat, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap IAI Rawa Aopa dapat menjadi salah satu mitra pengembangan IFTA di kawasan Sulawesi Tenggara serta berkontribusi dalam menghadirkan kajian hukum Islam yang integratif dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” kata Ismail.

Pertemuan yang berawal dari silaturahmi alumni Pesantren IMMIM tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama yang lebih konkret. Langkah itu sekaligus mendukung upaya desentralisasi edukasi dan pelayanan fatwa yang tengah dikembangkan oleh Masjid Istiqlal Jakarta.

IMG-20260622-WA0010

Transformasi Digital Kampus, IAI Rawa Aopa Dorong Pemanfaatan Platform Google Secara Terintegrasi

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Di era transformasi digital yang bergerak eksponensial, institusi pendidikan dituntut untuk adaptif dalam mengintegrasikan teknologi guna mendukung efisiensi akademis. Salah satu pilar utama yang menjadi motor penggerak perubahan ini adalah pemanfaatan platform berbasis awan (cloud computing).

Pemilihan teknologi yang tepat tidak hanya sekadar mengubah medium kerja dari analog ke digital, melainkan merestrukturisasi cara kerja menjadi lebih terintegrasi. Dalam konteks inilah, pemahaman mendalam mengenai ekosistem digital menjadi krusial agar seluruh sivitas akademika dapat mengoptimalkan seluruh instrumen yang tersedia demi mencapai efisiensi kerja yang maksimal.

Secara ilmiah, ekosistem digital seperti Google for Education dirancang dengan pendekatan arsitektur yang berpusat pada pengguna, mengedepankan aspek interaktivitas dan aksesibilitas tanpa batas waktu dan ruang. Melalui berbagai fitur mutakhirnya, platform ini mampu mereduksi beban kognitif (cognitive load) penggunanya dengan cara menyinkronkan pengelolaan dokumen, komunikasi kelompok, hingga manajemen kelas dalam satu ruang kerja tunggal. Fenomena kolaborasi real-time yang ditawarkan terbukti secara empiris mampu meningkatkan keterikatan (engagement) serta mempercepat siklus umpan balik dalam proses belajar-mengajar maupun administrasi lembaga.

Guna membedah potensi besar tersebut secara komprehensif, sebuah seminar virtual bertajuk “Memahami Ekosistem Google untuk Produktivitas dan Kolaborasi” siap diselenggarakan pada hari Selasa, 30 Juni 2026, pukul 13.30 WITA berpusat di Andoolo. Agenda strategis ini diinisiasi sebagai langkah nyata dalam meningkatkan literasi digital institusional secara sistemik. Pihak penyelenggara juga mengintegrasikan informasi resmi mengenai publikasi dan tindak lanjut program ini yang dapat diakses oleh publik melalui kanal digital resmi institusi pada alamat situs rawaaopakonsel.ac.id.

Sesi ilmiah populer ini akan dipandu secara langsung oleh Edward Ranggong, seorang fasilitator berpengalaman yang memiliki spesialisasi dalam implementasi teknologi pendidikan dan optimalisasi alat-alat produktivitas digital. Diskusi interaktif ini juga akan dikawal oleh Ismail Suardi Wekke selaku moderator, yang akan menjembatani perspektif teoritis-akademis dengan aplikasi praktis di lapangan. Kolaborasi kedua tokoh ini diharapkan mampu mengurai kompleksitas fitur-fitur Google menjadi strategi-strategi aplikatif yang langsung dapat diterapkan oleh para peserta.

Pada akhirnya, implementasi ekosistem Google for Education ini bukan lagi sekadar pilihan atau tren sesaat, melainkan sebuah kebutuhan fundamental untuk membangun budaya kerja masa depan yang resilien. Melalui pemahaman yang utuh dalam kegiatan ini, diharapkan lahir paradigma baru dalam pengelolaan dokumen, koordinasi tim, dan pembelajaran interaktif yang berbasis pada data berkelanjutan. Investasi pengetahuan melalui kegiatan ini akan menjadi fondasi penting bagi institusi dalam mencetak SDM yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga kompetitif di tingkat global.