IMG-20260725-WA0008

Sinergi Kampus dan Pemberdayaan Masyarakat: IAI Rawa Aopa dan Koperasi Homestay Teluk Ketapang

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Andolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan terus memperkuat jejaring dan reputasi internasionalnya. Langkah nyata ini diwujudkan melalui penjajakan dan penandatanganan kerja sama strategis dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia, yang berfokus pada pengembangan ekonomi berbasis komunitas, riset ekowisata, dan program pengabdian masyarakat lintas negara, ini sebagai diskusi akhir dalam kunjungan ke Konawe Selatan, Selasa (21/7/2026).

Pertemuan strategis ini mempertemukan kedua belah pihak guna bertukar pandangan mengenai peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan di masa depan. Beberapa agenda strategis yang menjadi fokus pembahasan meliputi program magang internasional (internship), penelitian bersama (joint research) terkait tata kelola pariwisata berbasis masyarakat, hingga program pengabdian masyarakat internasional (international community service).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi ini dalam mendukung penguatan kapasitas institusi dan implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi.

“Kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang ini merupakan bentuk komitmen IAI Rawa Aopa untuk menghadirkan pengalaman belajar berskala global bagi para mahasiswa dan dosen. Kami tidak hanya fokus pada penguatan akademik di dalam kampus, tetapi juga membuka ruang kolaborasi praktis yang memberi dampak nyata pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” ujar Ismail Suardi Wekke.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen kolaborasi tersebut, pihak Koperasi Homestay Teluk Ketapang melangsungkan kunjungan balasan selama 3 hari 2 malam di Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan. Dalam kunjungan lapangan ini, rombongan bertandang langsung ke Kampus 2 dan Kampus 3 IAI Rawa Aopa Konawe Selatan untuk meninjau fasilitas pendidikan serta berdiskusi langsung dengan dosen dan mahasiswa terkait pengembangan potensi lokal berbasis kemitraan lintas negara.

Selain menyambangi fasilitas kampus, delegasi Malaysia tersebut memperluas jejaring kerja sama ke tingkat tapak dengan menemui Kepala Desa Pellandia, Kecamatan Buke. Pertemuan ini difokuskan pada pertukaran gagasan serta perencanaan program pendampingan desa wisata berbasis komunitas, meniru model keberhasilan tata kelola homestay yang telah diterapkan Koperasi Homestay Teluk Ketapang di Malaysia.

Rangkaian kunjungan ditutup dengan pertemuan resmi bersama Sekretaris Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, guna memperkuat dukungan pemerintah daerah terhadap program sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat desa, dan mitra internasional. Kerja sama multipihak ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam mendorong percepatan pembangunan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Konawe Selatan.

IMG-20260725-WA0006

IAI Rawa Aopa Siapkan Program KKA Agustus 2026, Mahasiswa Diminta Segera Registrasi

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Andolo – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan bersiap menggelar program Kuliah Kerja Amaliah (KKA) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Agustus 2026. Seluruh mahasiswa yang memenuhi persyaratan sebagai peserta diminta segera menyelesaikan proses registrasi administrasi dan akademik sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Persiapan pelaksanaan KKA dilakukan dengan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi yang menjadi sasaran program. Peninjauan tersebut dilakukan jajaran pimpinan civitas akademika IAI Rawa Aopa, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan itu melibatkan Rektor IAI Rawa Aopa Dr. Basrin Melamba, M.A., Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Al Asri, M.Si., Wakil Rektor Ismail Suardi Wekke, Ph.D., serta sejumlah dosen dan tenaga kependidikan.

Tim tersebut meninjau sejumlah titik di wilayah Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan untuk memastikan kesiapan lokasi sekaligus memetakan kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran program pengabdian.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan pentingnya mahasiswa segera melakukan registrasi sebagai peserta KKA. Menurut dia, kepastian jumlah peserta diperlukan untuk menentukan pemetaan kelompok dan penempatan mahasiswa di lokasi pengabdian.

“Kami meminta seluruh mahasiswa peserta KKA untuk segera melakukan registrasi sesuai jadwal yang ditetapkan agar pemetaan kelompok dan penempatan lokasi berjalan optimal,” ujar Ismail di sela-sela peninjauan lapangan.

Ismail mengatakan pelaksanaan KKA pada Agustus 2026 menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghubungkan proses pembelajaran akademik dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi melalui program yang relevan dengan kondisi dan potensi wilayah tempat mereka menjalankan pengabdian.

“KKA bukan sekadar pemenuhan SKS formal, melainkan ruang pembuktian kepedulian sosial dan integrasi keilmuan civitas akademika IAI Rawa Aopa di tengah masyarakat,” tegasnya.

Menurut Ismail, peninjauan lapangan yang dilakukan bersama jajaran yayasan, rektorat, dosen, dan tenaga kependidikan juga bertujuan mengidentifikasi potensi serta tantangan di wilayah yang akan menjadi lokasi KKA.

Pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan manfaat yang konkret.

Ismail menambahkan, program KKA tahun ini akan diarahkan pada integrasi sejumlah sektor, di antaranya keagamaan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan tata kelola desa. Pendekatan berbasis kebutuhan lokal dinilai penting agar program yang dijalankan mahasiswa dapat mendukung pembangunan di wilayah sasaran.

Ia pun meminta mahasiswa mempersiapkan diri sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, baik dari sisi fisik, mental, maupun kesiapan program kerja.

“Persiapkan diri dengan baik, jaga integritas almamater, dan jadikan momentum KKA ini sebagai sarana belajar serta mengabdi secara tulus,” tutup Ismail.

IMG-20260722-WA0070

Jelang CISEC 2026, SEAAM Konsolidasikan Dukungan Mitra di Makassar

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Makassar – Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) mematangkan persiapan pelaksanaan Celebes International Summit on Education and Culture (CISEC) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. Persiapan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan mitra dari Malaysia.

Sebagai bagian dari persiapan teknis, Komite Saintifik SEAAM, Ismail Suardi Wekke, menggelar pertemuan daring bersama jajaran otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Jumat (17/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas penyelarasan skema keterlibatan serta dukungan fasilitas di kawasan bandara untuk menunjang mobilitas dan penyambutan delegasi yang akan menghadiri rangkaian kegiatan CISEC 2026.

“Pertemuan daring bersama otoritas Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi tonggak penting dalam memastikan seluruh kesiapan logistik dan pintu masuk para delegasi internasional terfasilitasi dengan standar terbaik,” kata Ismail seusai peninjauan agenda kerja di Makassar.

Selain melakukan koordinasi dengan pihak bandara, SEAAM juga memperluas jejaring kemitraan di tingkat regional. Ismail Suardi Wekke melakukan pertemuan tatap muka dengan pengurus Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia untuk menjajaki dukungan dan keterlibatan organisasi berbasis komunitas tersebut dalam pelaksanaan CISEC 2026.

“Dukungan dari Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia menunjukkan bahwa CISEC tidak hanya berfokus pada wacana akademik, tetapi juga menyentuh aspek kebudayaan dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas,” ujarnya.

Menurut Ismail, keterlibatan mitra dari Malaysia diharapkan dapat memperkuat dimensi kebudayaan dalam pelaksanaan CISEC 2026, termasuk melalui pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat di tingkat regional.

CISEC 2026 dirancang sebagai forum yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas isu pendidikan dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Forum tersebut juga diharapkan dapat mendorong kolaborasi lintas sektor dan negara.

“Kami merancang CISEC sebagai ruang dialog inklusif yang dapat menghubungkan pemikir, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Asia Tenggara,” tegas Ismail.

Ia mengatakan, hasil koordinasi dengan pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin telah menghasilkan pembahasan awal terkait dukungan fasilitas dan pemanfaatan area strategis untuk menunjang mobilitas peserta kegiatan.

Sementara itu, kerja sama yang tengah dijajaki dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang Malaysia diharapkan dapat memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam bidang kebudayaan serta pemberdayaan masyarakat.

Saat ini, tim kerja SEAAM masih mematangkan struktur agenda kegiatan dan melakukan penyaringan karya ilmiah yang akan menjadi bagian dari rangkaian CISEC 2026.

Melalui persiapan dan penjajakan kemitraan tersebut, SEAAM menargetkan CISEC 2026 dapat menjadi forum pertukaran gagasan dan pengalaman antarnegara di Asia Tenggara, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

IMG-20260722-WA0065

Matangkan KKA 2026, IAI Rawa Aopa Survei Lokasi Pengabdian di Bombana

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Bombana – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan mematangkan persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Amaliyah (KKA) 2026 melalui survei lapangan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Survei tersebut dilakukan di Kecamatan Poleang Timur dan Kecamatan Poleang Utara, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan program pengabdian masyarakat yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.

Jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa turut terlibat dalam peninjauan tersebut, di antaranya Rektor IAI Rawa Aopa, Dr. Basrin Melamba, M.A., Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Asri, M.Si., serta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian, Ismail Suardi Wekke, Ph.D. Mereka didampingi sejumlah dosen dan tenaga kependidikan.

Survei dilakukan untuk memetakan potensi wilayah sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang dapat menjadi dasar penyusunan program KKA 2026. Program tersebut merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus bagian dari pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi.

KKA 2026 akan melibatkan mahasiswa dari sejumlah program studi di IAI Rawa Aopa. Pelaksanaan tahun ini juga akan diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) yang kini telah memasuki semester kelima.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, mengatakan survei lapangan menjadi tahapan penting untuk memastikan program yang dirancang mahasiswa sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lokasi pengabdian.

“Survei ini bukan hanya agenda rutin atau perpindahan tempat belajar mahasiswa, melainkan langkah krusial untuk memastikan bahwa kehadiran IAI Rawa Aopa di Bombana dapat memberikan kontribusi terhadap kebutuhan nyata masyarakat lokal,” ujar Ismail saat peninjauan di Poleang Timur.

Menurut Ismail, koordinasi dengan pemerintah daerah diperlukan agar program yang disusun mahasiswa dapat berjalan selaras dengan agenda pembangunan dan kebutuhan masyarakat di tingkat kecamatan maupun desa.

“Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bombana adalah fondasi utama agar seluruh program yang dirancang mahasiswa memiliki dampak berkelanjutan, baik di bidang tata kelola maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.

Keterlibatan mahasiswa Program Studi HTN, lanjut Ismail, diharapkan dapat memperluas kontribusi akademik dalam pelaksanaan KKA 2026, khususnya dalam pendampingan tata kelola kelembagaan desa dan peningkatan kesadaran hukum masyarakat.

“Tahun ini, kehadiran mahasiswa Hukum Tata Negara yang kini memasuki tahun ketiga akan memperkuat dimensi pendampingan tata kelola kelembagaan desa serta kesadaran hukum masyarakat di lokasi KKA,” ujarnya.

Setelah survei lapangan dilakukan, tim dosen pembimbing akan menyusun pemetaan kebutuhan desa berdasarkan hasil identifikasi di Kecamatan Poleang Timur dan Poleang Utara. Pemetaan tersebut akan menjadi salah satu dasar dalam merancang program kerja mahasiswa selama pelaksanaan KKA.

Ismail mengatakan pelaksanaan KKA 2026 juga akan diarahkan menggunakan pendekatan “action research”. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga menghasilkan kajian yang dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

“Program KKA diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengabdian selama mahasiswa berada di lokasi, tetapi juga dapat menghasilkan pengetahuan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah daerah,” katanya.

Melalui survei dan pemetaan awal tersebut, IAI Rawa Aopa berharap pelaksanaan KKA 2026 di Kecamatan Poleang Timur dan Poleang Utara dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan potensi wilayah.

IMG-20260720-WA0102

IAI Rawa Aopa Gandeng Koperasi Malaysia, Desa Pelandia Jadi Laboratorium Pengabdian

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Pelandia – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan menjalin kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, untuk memperkuat program transformasi desa berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa Pelandia, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, Senin (20/7/2026).

Kolaborasi tersebut ditandai dengan pertemuan antara Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, dan Pengerusi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Md Azmi A. Azis. Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Desa Pelandia dan Sekretaris Kecamatan Buke.

Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan pemerintah desa serta mitra internasional.

Dalam kesempatan itu, Ismail Suardi Wekke menegaskan bahwa transformasi desa harus diwujudkan melalui langkah nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Transformasi desa tidak boleh sekadar menjadi komoditas wacana di ruang-ruang seminar kampus. Perguruan tinggi keagamaan Islam harus hadir sebagai intermedian sekaligus penggerak perubahan yang melekat langsung di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, Desa Pelandia dipilih sebagai titik awal pengembangan model kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan mitra internasional.

“Dari Desa Pelandia, kami berkomitmen meletakkan batu pertama bagi sebuah ekosistem baru. Kehadiran Md Azmi A. Azis dari Koperasi Teluk Ketapang Malaysia diikhtiarkan membawa perspektif global dan pengalaman praktis sektor hospitality yang akan disenyawakan dengan kearifan lokal Kecamatan Buke. Hal ini menjadi model hilirisasi pengetahuan yang langsung menyentuh akar rumput demi menjawab kebutuhan masyarakat desa,” kata Ismail.

Dalam kerja sama tersebut, Koperasi Homestay Teluk Ketapang akan berbagi pengalaman dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism), termasuk pengelolaan homestay, ekonomi kreatif, dan penguatan kelembagaan desa.

Md Azmi A. Azis menekankan bahwa pembangunan desa akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat menjadi pelaku utama dalam proses pengembangannya.

“Warga desa harus menjadi pemilik saham utama dalam pembangunan daerahnya sendiri,” ujarnya.

Program yang dirancang dalam kemitraan ini meliputi pelatihan manajemen akomodasi lokal, digitalisasi pemasaran potensi desa, serta pendampingan bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi lokal. Seluruh program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa.

Pemerintah Kecamatan Buke dan Pemerintah Desa Pelandia menyambut baik kerja sama tersebut. Sekretaris Kecamatan Buke bersama Kepala Desa Pelandia menyatakan kesiapan menjadikan wilayahnya sebagai lokasi pengembangan program pengabdian masyarakat, riset terapan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara IAI Rawa Aopa, Pemerintah Desa Pelandia, dan Koperasi Homestay Teluk Ketapang diharapkan menjadi model kemitraan lintas negara yang mampu memperkuat pembangunan desa melalui peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, dan penguatan kelembagaan desa.

IMG-20260719-WA0020

IAI Rawa Aopa dan Koperasi Malaysia Siapkan MoU untuk Perkuat Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan memperluas jaringan kerja sama internasional melalui kemitraan dengan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Kuala Terengganu, Malaysia. Kedua lembaga tengah mematangkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar pelaksanaan berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas.

Persiapan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, dan Ketua Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Mohd Aziz, di Andoolo, Konawe Selatan, Minggu (19/7/2026).

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, mengatakan kemitraan ini merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring internasional kampus sekaligus memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya berorientasi pada pertukaran pengalaman akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kerja sama ini akan memperkuat program pengabdian masyarakat, membuka ruang kolaborasi penelitian, serta menghadirkan pengalaman internasional bagi dosen dan mahasiswa. Kami ingin kerja sama ini melahirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Ismail.

Ia menambahkan, kedekatan budaya antara Indonesia dan Malaysia menjadi modal penting dalam membangun kemitraan yang berkelanjutan. Kesamaan karakter masyarakat yang dinilai dapat mempermudah implementasi berbagai program lintas negara, terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan komunitas dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Selain pengabdian kepada masyarakat, kedua institusi juga menjajaki peluang pelaksanaan penelitian bersama, pertukaran akademisi, serta keterlibatan mahasiswa dalam program pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) di Malaysia.

Sementara itu, Ketua Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Mohd Aziz, menyatakan menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Menurutnya, pengalaman Koperasi Homestay Teluk Ketapang dalam mengembangkan ekowisata berbasis komunitas dapat menjadi ruang pembelajaran bersama bagi sivitas akademika IAI Rawa Aopa.

“Kami berharap kerja sama ini menjadi awal hubungan jangka panjang antara kedua institusi. Mahasiswa dan akademisi dari IAI Rawa Aopa nantinya dapat belajar sekaligus berkontribusi dalam pengembangan homestay, pariwisata komunitas, dan pemberdayaan masyarakat di Malaysia,” kata Azmi.

Penandatanganan MoU yang tengah dipersiapkan itu diharapkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya berbagai program kolaboratif Indonesia–Malaysia, mulai dari pengabdian masyarakat internasional, penelitian bersama, pengembangan desa wisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran akademik.

Melalui kemitraan tersebut, IAI Rawa Aopa bertujuan memperkuat jejaring global sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat di tingkat regional maupun internasional.

IMG-20260719-WA0012

Koperasi Homestay Malaysia Sambangi Konawe Selatan, Buka Peluang Kerja Sama Internasional dengan IAI Rawa Aopa

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id – Kendari – Upaya memperkuat kolaborasi internasional di bidang pemberdayaan masyarakat dan pariwisata berbasis komunitas terus dilakukan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan. Salah satunya melalui kunjungan Delegasi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Kuala Terengganu, Malaysia, yang tiba di Bandara Haluoleo, Kendari, Minggu (19/7/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kerja sama antara kedua lembaga dalam pengembangan program pengabdian masyarakat, pemberdayaan ekonomi warga, serta penguatan konsep pariwisata syariah dan ekowisata.

Pimpinan Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Azmi Bin Abd Azis atau Cikgu Azmi, mengatakan kunjungan ke Sulawesi Tenggara merupakan langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih luas antara komunitas di Malaysia dan Indonesia.

“Kami melihat banyak potensi yang dapat dikembangkan bersama, terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. Oleh karena itu, kami sangat antusias untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan pihak IAI Rawa Aopa,” ujarnya setibanya di Kendari.

Setelah tiba di Sulawesi Tenggara, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Konawe Selatan untuk mengikuti serangkaian agenda akademik dan kunjungan lapangan. Selain berdialog dengan pimpinan kampus, delegasi juga akan diperkenalkan dengan sejumlah program pengabdian masyarakat yang selama ini menjadi fokus IAI Rawa Aopa.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai kunjungan tersebut sebagai peluang strategis untuk memperluas jejaring internasional kampus sekaligus memperkaya perspektif mahasiswa dan dosen dalam pengembangan masyarakat.

“Kerja sama seperti ini tidak hanya penting bagi institusi, tetapi juga bagi masyarakat yang menjadi sasaran program pemberdayaan. Kami berharap ada transfer pengalaman dan praktik baik yang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan lokal,” katanya.

Menurut Ismail, salah satu agenda yang akan dibahas adalah kemungkinan pengembangan program bersama dalam bidang pariwisata berbasis komunitas yang mengedepankan aspek kemiskinan, kearifan lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kunjungan delegasi Malaysia ini juga mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar. Mereka menilai kehadiran praktisi internasional dapat membuka ruang pembelajaran baru sekaligus memperluas peluang kolaborasi lintas negara.

Melalui pertemuan tersebut, kedua pihak diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah konkret yang tidak hanya menghentikan pertukaran gagasan, tetapi juga melahirkan program kolaboratif yang berdampak langsung bagi masyarakat serta memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Malaysia.

IMG-20260716-WA0007

Ismail Suardi Wekke: Buku Seri Pemikiran Nasaruddin Umar Jadi Rujukan Transformasi Pendidikan Islam

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Tiga buku Seri Pemikiran Prof. KH Nasaruddin Umar, MA resmi diluncurkan di Auditorium Harun Nasution, Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026). Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sekaligus memperluas penyebaran gagasan intelektual Menteri Agama Republik Indonesia kepada kalangan akademisi dan masyarakat.

Kegiatan yang digelar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, Kantor Nasaruddin Umar (NUO), UIN Sumatera Utara Medan, Universitas PTIQ Jakarta, dan Prodeleader Global Media itu melibatkan sejumlah tokoh nasional, akademisi, serta pimpinan perguruan tinggi keagamaan dari berbagai daerah.

Tiga buku yang diluncurkan masing-masing berjudul “Pikiran yang Memurnikan: Jejak Mahakarya Prof. Nasaruddin Umar” karya Rahmat Taufik Sipahutar, Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, dan Artikel & Opini Pilihan Prof. Nasaruddin Umar. Ketiganya mengulas perkembangan pemikiran Nasaruddin Umar, mulai dari isu epistemologi, tafsir, moderasi beragama, hingga tantangan pendidikan Islam di era digital.

Acara peluncuran menghadirkan Menteri Agama RI Prof. KH Nasaruddin Umar, MA dan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Si. sebagai pembicara utama. Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar membuka kegiatan yang kemudian dilanjutkan dengan sesi buku bedah bersama sejumlah sejarawan.

Di sela-sela kegiatan, Pimpinan Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menilai kehadiran buku seri pemikiran tersebut menjadi referensi penting bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi perguruan tinggi keagamaan.

“Menurut saya, buku ini bukan hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual Prof. Nasaruddin Umar, tetapi juga menawarkan arah baru bagi pengembangan pendidikan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman,” kata Ismail.

Ia mengatakan berbagai gagasan tertua dalam buku tersebut dapat menjadi rujukan dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi, pengembangan kurikulum, hingga transformasi digital di lingkungan kampus.

“Buku ini bukan sekedar narasi teks biasa, melainkan kompas pemikiran yang dapat menjadi acuan dalam membangun institusi pendidikan Islam yang lebih modern, adaptif, dan tetap diterapkan pada nilai-nilai keislaman,” ujarnya.

Menurut Ismail, perguruan tinggi keagamaan mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam praktik pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, IAI Rawa Aopa, kata dia, akan menjadikan berbagai pemikiran tertua dalam buku tersebut sebagai salah satu referensi dalam pengembangan kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami ingin nilai-nilai yang dibangun Prof. Nasaruddin Umar tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam proses pembelajaran sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki karakter moderat,” tuturnya.

Peluncuran buku ini juga dirangkaikan dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional sebagai bagian dari upaya memperluas penyebaran gagasan Prof. Nasaruddin Umar kepada kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas.

IMG-20260715-WA0010

Koperasi Malaysia Dijadwalkan Kunjungi IAI Rawa Aopa, Bahas Penguatan Ekonomi Berbasis Syariah

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Tangerang – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, tengah mempersiapkan kerja sama dengan delegasi Koperasi Malaysia melalui agenda kunjungan yang dirancang sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan berbasis syariah. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengalaman pengelolaan koperasi sekaligus pengembangan kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal.

Rencana itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, di Kampus Binus University, Alam Sutera, Tangerang, Selasa (14/7/2026), usai menjadi narasumber dalam kegiatan Pre-Conference International Conference on Sustainability Business, Economy, and Accounting (ICOSBE) 2026.

Menurut Ismail, kunjungan delegasi Koperasi Malaysia tidak hanya dimaksudkan sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi langkah awal membangun kerja sama yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

“Kunjungan mitra dari Koperasi Malaysia ke kampus kami di Konawe Selatan bukan sekadar seremoni biasa, melainkan momentum penting untuk menyinergikan potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis syariah,” kata Ismail.

Ia menjelaskan, IAI Rawa Aopa dipilih karena memiliki fokus pengembangan masyarakat pesisir dan pedesaan. Kampus tersebut, kata dia, sedang menyiapkan laboratorium koperasi mahasiswa yang akan menjadi wadah pembelajaran sekaligus pengembangan model pengelolaan koperasi modern dengan mengadopsi sejumlah praktik yang telah diterapkan di Malaysia.

Bagi IAI Rawa Aopa, kerja sama lintas negara tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik di kalangan mahasiswa maupun pelaku usaha lokal.

“Kami ingin mahasiswa dan pelaku usaha lokal di Sulawesi Tenggara bisa belajar langsung bagaimana Koperasi Malaysia mampu menembus pasar global dan mengelola aset hingga miliaran ringgit,” ujarnya.

Ismail mengatakan, hasil dari kerja sama itu nantinya tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan. Kampus telah menyiapkan program Pengabdian kepada Masyarakat Tematik Internasional yang akan melibatkan mahasiswa dalam pendampingan koperasi desa bersama akademisi dan praktisi dari Malaysia.

Program tersebut, menurut dia, diharapkan menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra internasional dalam memperkuat tata kelola koperasi di daerah.

“Kami menargetkan setelah kunjungan ini terlaksana akan lahir sebuah proyek percontohan koperasi modern berbasis digital di Konawe Selatan yang dibina bersama oleh IAI Rawa Aopa dan Koperasi Malaysia,” kata Ismail.

Melalui kolaborasi tersebut, IAI Rawa Aopa berharap pengalaman pengelolaan koperasi di Malaysia dapat diadaptasi sesuai kebutuhan lokal, sehingga mampu memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan dan kawasan pesisir Sulawesi Tenggara.

 

IMG-20260714-WA0008

Kunjungan PM India Jadi Momentum Perguruan Tinggi RI Perkuat Kolaborasi Akademik

Mutu.rawaaopakonsel.ac.id, Jakarta – Kunjungan resmi Perdana Menteri India ke Indonesia dinilai menjadi momentum krusial bagi sektor pendidikan tinggi di tanah air. Kalangan akademisi berharap momentum diplomasi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempertahankan sekaligus memperluas jaringan kerja sama akademik antara kedua negara yang telah terjalin erat selama ini.

Apresiasi dan sambutan hangat datang dari berbagai tokoh pendidikan, salah satunya Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kehadiran pemimpin pemerintahan India tersebut membawa angin segar bagi masa depan kolaborasi riset dan kebudayaan.

“Kami menyampaikan selamat datang yang sehangat-hangatnya kepada Perdana Menteri India di Indonesia. Kehadiran beliau adalah simbol kedekatan historis dan intelektual yang harus kita rawat bersama,” ujar Ismail Suardi Wekke saat dihubungi pada Selasa (14/7/2026).

Ismail menambahkan bahwa institusinya berkomitmen penuh untuk menjaga hubungan baik yang sudah terbangun. Dirinya menegaskan kesediaan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan untuk mempertahankan serta meningkatkan volume kerja sama, baik dalam bentuk pertukaran mahasiswa maupun kolaborasi riset keagamaan dan sains.

Menurut Ismail, perguruan tinggi di Indonesia harus bergerak aktif menjemput peluang ini. Sinergi dengan India dinilai sangat strategis mengingat negara tersebut memiliki perkembangan teknologi dan akademik yang sangat pesat.

“India adalah mitra strategis dalam dunia pendidikan global. Oleh karena itu, momentum kunjungan ini harus dimanfaatkan oleh perguruan tinggi di Indonesia untuk mereaktualisasi berbagai nota kesepahaman yang sempat tertunda,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa hubungan bilateral di bidang pendidikan tinggi sering kali menjadi fondasi kuat bagi kerja sama ekonomi dan politik jangka panjang. Pihaknya menilai, beasiswa dari pemerintah India, seperti skema Indian Council for Cultural Relations (ICCR), terbukti telah mencetak banyak akademisi andal di Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga dilaporkan tengah mempersiapkan beberapa kesepakatan baru. Kerja sama tersebut diproyeksikan berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan digitalisasi kurikulum.

Menutup keterangannya, Ismail Suardi Wekke kembali menekankan pentingnya implementasi nyata pascakunjungan kenegaraan ini agar tidak berhenti di atas kertas saja. “Kami berharap kerja sama ke depan tidak sekadar seremonial. Harus ada implementasi nyata berupa joint research dan pengabdian masyarakat internasional yang berdampak langsung bagi kedua negara,” pungkas Ismail.